Musibah

Cara Kesabaran dalam Menghadapi Musibah

kesabaran

Pada bagian pertama dari “Kalimat Kedua Puluh Satu”, kami telah jelaskan bahwa apabila manusia tidak mencerai-beraikan kekuatan kesabaran yang dianugerahkan kepadanya dan tidak menghamburkannya dalam berbagai ilusi dan kekhawatiran, maka kekuatan kesabaran tersebut sudah cukup membuatnya tegar menghadapi semua musibah dan bencana.

Akan tetapi, keterkungkungan manusia dalam rasa cemas, kelalaiannya dari Allah, serta keteperdayaannya ia oleh kehidupan dunia fana yang seolah-olah abadi, membuatnya mencerai-beraikan kekuatan kesabarannya lantaran memikirkan penderitaan masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan. Sehingga kesabaran yang dianugerahkan Allah SWT. kepadanya tak lagi bisa membuatnya sanggup dan tegar dalam menghadapi musibah yang ada. Dia pun mulai mengeluh. Seakan-akan dia mengadukan Allah SWT. kepada manusia seraya menampakkan sedikit atau bahkan habisnya kesabarannya sehingga menjadikannya bak orang gila.

Padahal, tidak layak baginya untuk gelisah seperti itu. Sebab, kesulitan hari-hari yang telah lewat—jika dilalui dengan musibah—telah hilang dan menyisakan kelapangan. Kepenatan dan rasa sakitnya juga telah sirna, yang tersisa hanya kenikmatan. Tekanan dan himpitannya telah lenyap, yang masih ada hanyalah ganjarannya. Karena itu, ia tidak diperkenankan untuk mengeluh. Bahkan seharusnya ia bersyukur kepada Allah SWT. dengan penuh rasa rindu.

Dia (manusia) juga tidak diperkenankan untuk benci dan marah terhadap musibah yang ada. Justru ia harus mengikat rasa cinta kepadanya. Sebab, usia manusia yang telah berlalu tersebut telah berubah menjadi usia yang berbahagia dan kekal karena melalui musibah. Karena itu, merupakan kebodohan dan kedunguan apabila seseorang mencerai-beraikan dan menyia-nyiakan kesabarannya dengan memikirkan penderitaan yang telah berlalu.

Adalah kebodohan menghawatirkan, musibah dan penyakit yang mungkin menimpa manusia pada masa mendatang. Sebab, saat itu masih belum tiba. Sebagaimana merupakan kedunguan apabila seseorang memakan banyak nasi dan meminum banyak air karena khawatir akan kelaparan dan kehausan keesokan harinya.

Demikian pula dengan orang yang sejak sekarang sudah bersedih dan gelisah karena khawatir mendapatkan musibah dan penyakit di masa mendatang. Menampakkan kegelisahan terhadap berbagai musibah di masa depan tanpa alasan yang jelas adalah puncak ketololan yang sampai pada derajat merenggut kelembutan dan perasaan kasih dalam diri seseorang. Bahkan, dengan demikian ia telah menganiaya dirinya sendiri.

Kesimpulan: Sebagaimana rasa syukur dapat menambah kenikmatan itu sendiri, maka keluhan akan menambah musibah tersebut dan bisa membuat seseorang tidak lagi mengasihi dirinya.

Said Nursi, Al-Lama’at, hlm. 15-16
Pembahasan bersambung

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *