Musibah

Berlalunya Musibah Menghasilkan Kenikmatan Maknawi

happiness

Seperti yang telah kami paparkan dalam Al-Kalimat, apabila seseorang memikirkan masa lalunya, maka akan terbesit dalam hatinya dan akan terlontar dari mulutnya “Oh, alahkah ruginya…,” atau “segala puji bagi Allah.” Artinya, orang tersebut mungkin akan menyesal dan kecewa, atau memuji dan mensyukuri Tuhannya.

Rasa sedih dan kecewa muncul karena penderitaan jiwa yang bersumber dari keterpisahannya dari berbagai kenikmatan pada masa sebelumnya.Hal tersebut dikarenakan hilangnya kenikmatan merupakan sebuah penderitaan. Bahkan rasa nikmat yang hilang tersebut dapat menimbulkan penderitaan berkesinambungan. Merenungkannya akan memeras derita tersebut dan meneteskan rasa sesal dan duka.

Adapun kenikmatan maknawi berkesinambungan dari hilangnya derita temporer yang dilalui seseorang dalam hidupnya, menjadikan lidahnya mengucapkan puji dan puji kepada Allah SWT. Hal ini bersifat fitrah, dirasakan setiap orang. Disamping itu, apabila penderita mengingat imbalan yang indah dan ganjaran yang baik, yang disediakan di akhirat, dan merenungkan umur pendeknya yang memanjang akibat sakit, maka ia tidak hanya bersabar terhadap derita yang ditimpakan kepadanya,tapi juga mencapai derajat syukur kepada Allah. Lidahnya pun akan mensyukuri Tuhannya, “ Segala puji bagi Allah dalam keadaan apapun kecuali kekufuran dan kesesatan.”

Ada peribahasa yang berbunyi, “Betapa panjangnya usia musibah.” Peribahasa tersebut memang benar, namun dengan pengertian yang berbeda dari apa yang dikenal dan diduga banyak orang. Mereka menganggap musibah itu panjang karena penderitaan dan kesengsaraan yang ada di dalamnya. Padahal sebetulnya ia menjadi terbentang panjang sepanjang umur manusia karena menghasilkan kehidupan yang mulia.

Said Nursi, Al-Lama’at, h. 14.
Pembahasan bersambung…

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *