Kegiatan

Stadium Generale Said Nursi, UIN KHAS Jember

Jember — Wakil Rektor I UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si., secara resmi membuka stadium generale bertajuk “The Intellectual Trajectory and Influence of Said Nursi’s Ideas in the Indonesian Context” pada Rabu, 3 November 2025 di BEC International Class Lantai 1.

Dalam sambutannya, Prof. Amal menegaskan bahwa stadium generale merupakan ruang penting dalam memperkuat tradisi akademik melalui dialog dan pertukaran pengetahuan lintas disiplin. Ia menekankan bahwa sivitas akademika harus aktif merespons isu-isu mutakhir dan memproduksi pengetahuan sebagai karakter dasar seorang intelektual. Ia juga menyinggung sejarah peradaban Islam klasik yang menjadikan masjid sebagai pusat ilmu dan peradaban—spirit intelektual yang perlu dihidupkan kembali di perguruan tinggi saat ini.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat kerja sama antara UIN KHAS Jember dan The Istanbul Foundation for Science and Culture. Prof. Amal membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengikuti program student mobility, short course, dan visiting student di Turki. Mulai 2026, kampus menyiapkan langkah konkret dan dukungan anggaran untuk memperluas pertukaran mahasiswa internasional.

Rangkaian acara ditutup dengan doa yang dipimpin Muhammad Faiz, M.A., kemudian dilanjutkan penandatanganan MoU antara Al-Manar: Jurnal Kajian Alquran dan Hadis serta Islamika Inside: Jurnal Keislaman dan Humaniora UIN KHAS Jember dengan The Istanbul Foundation for Science and Culture.

Pada sesi materi, Hasbi Sen, M.Hum, perwakilan The Istanbul Foundation di Indonesia sekaligus Pembina Yayasan Nur Semesta, menyajikan pemaparan komprehensif mengenai khazanah intelektual Badiuzzaman Said Nursi. Ia mengulas biografi Nursi, perjalanan intelektualnya dari masa Kekaisaran Turki Utsmani hingga Republik Turki, serta gagasan utamanya tentang integrasi ilmu agama dan sains.
Hasbi menyoroti keunikan pemikiran Nursi yang menyatukan iman, rasionalitas, dan sains modern—digambarkan melalui proyek Madrasah Az-Zahra, lembaga ideal yang memadukan kajian keagamaan dan ilmu pengetahuan. Ia juga menjelaskan bagaimana karya-karya Risalah Nur disalin dan disebarkan secara senyap pada masa represif negara, menunjukkan ketangguhan tradisi ilmu dalam tekanan.

Hasbi menutup presentasinya dengan penekanan pada relevansi pemikiran Said Nursi bagi konteks Indonesia kontemporer, terutama dalam penguatan iman, moderasi beragama, etika sosial, dan konstruksi peradaban damai. Menurutnya, gagasan Nursi telah menemukan ruang baru di Indonesia, baik melalui kajian akademik di kampus maupun gerakan literasi dan edukasi di masyarakat luas.